Minggu, 06 April 2014

EFEK OBAT ANTI DIARE PADA HEWAN COBA KELINCI


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Makanan yang ditelan akan bercampur dengan air liur yang mengandung amilase yaitu enzim yang membantu pencernaan, makanan masuk keesofagus dengan bantuan suatu  mekanisme peristaltik dan seterusnya masuk ke dalam lambung. Dalam lambung makanan akan mengalami beberapa hal yang penting antara lain  terjadi pemecahan protein menjadi asam amino, kemudian makanan diteruskan oleh gelombang peristaltik sedikit demi sedikit masuk ke dalam  usus halus, bila porsi kecil makanan telah memasuki usus halus akan timbul refleks  untuk menghentikan sementara  penyaluran makanan dari lambung ke dalam usus halus dan refleks yang lain akan memacu kelenjar utama dari saluran cerna ( hati, kandung empedu, pancreas) untuk membantu penyerapan dari zat-zat makanan. Setelah menelan makanan, suatu gelombang peristaltik mambawa bolus makan menuju esofagus dengan cepat.  gelombang ini akan membuka sfingter esophagus bagian bawah. Pada beberapa penyakit gelombang ini tidak dapat membuka sfingter esophagus bagian bawah dengan sempurna. Sfingter esophagus akan selalu tertutup untuk mencegah isi lambung mengalir kembali ke esofagus, Rasa nyeri retrosternal (heart burn) dan Peradangan mukosa esophagus (esofagitis refluks : mukosa sangat merah dan mudah berdarah) disebabkan karena adanya refluks asam lambung kedalam esophagus yang merupakan akibat kelumpuhan pada refleks sfingter esophagus bagian  bawah di sebabkan karena kebiasaan merokok dan minum kopi.1

Angka kejadian diare, penyakit yang ditandai perubahan konsistensi tinja dan peningkatan frekuensi berak, di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Kepala Subdit Diare dan Kecacingan Departemen Kesehatan I Wayan Widaya di Jakarta, Kamis, mengatakan, angka kejadian diare Indonesia menurut survei morbiditas yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2003 berkisar antara 200-374 per 1000 penduduk. "Sedangkan pada balita, setiap balita rata-rata menderita diare satu sampai dua kali dalam satu tahun," katanya serta menambahkan bahwa tingkat kematian akibat diare pun masih cukup tinggi. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama 2006, kata Wayan, sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di wilayahnya.
Jumlah kasus diare yang dilaporkan, kata dia, sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian (Case Fatality Rate/CFR=2,5 persen). Hal tersebut, kata dia, utamanya disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi yang buruk dan perilaku hidup tidak bersih. Ia menyebutkan menurut laporan dari 119 dinas kesehatan kabupaten/kota tahun 2004 air bersih yang memenuhi syarat kesehatan hanya 57,09 persen. Sementara persentase keluarga yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan baru sekitar 67,12 %. Lebih lanjut Wayan menjelaskan, guna menurunkan angka kejadian dan kematian akibat diare pihaknya memfokuskan strategi penanganan pada penatalaksanaan diare pada tingkat rumah tangga, sarana kesehatan dan KLB diare.Penatalaksanaan kasus diare yang tepat pada ketiga hal tersebut diharapkan dapat menurunkan fatalitas akibat penyakit.
Omeprazole dan Lanzoprazole,menghambat sekresi asam lambung basal dan sekresi yang di karenakan oleh adanya rangsangan, 1 -2 jam setelah pemberian dosis pertama. Omeprazole dan Lansoprazole di gunakan untuk pengobatan jangka pendek esofagitis yang erosif dan ulkus duodenum aktif serta pengobatan jangka panjang untuk hipersekresi yang patologis misalnya sindrom zollinger-ellison biasanya dapat di kombinasikan dengan antimikroba untuk mengeradikasi H.pylori. Omeprazol dan lansoprazol dapat di terima dengan baik oleh tubuh tapi perlu di perhatikan bahwa penggunaan jangka panjang obat ini pada hewan penelitian dapat menyebabkan tumor karsinoid lambung, yang kemungkinan di akibatkan oleh efek hipoklorida yang berkepanjangan dan hipergastrinemia sekunder, dapat juga menyebabkan peningkatan konsentrasi bakteri yang dapat hidup di dalam lambung, obat ini dapat mengganggu oksidasi warfarin, fenitoin, diazepam dan siklosporin oleh omeprazol sedangkan lansoprazol belum ada laporan.1
B.     Tujuan
1.      Mengetahui aktivitas obat anti diare
2.      Mengetahui efek obat anti diare


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Diare adalah keadaan buang-buang air dengan banyak cairan. Makanan dari lambung akan dicerna membentuk chymus( masa seperti bubur), masuk ke usus kecil dengan adanya enzim pencernaan makana akan dirombak, kemudian bahan diresorpsi, sisanya berupa serat dan 90% air, masuk ke usus besar. Didalam usus besar air akan diresorpsi sehingga sisa makanan yang encer memadat.2
Diare ditandai dengan frekuensi defekasi yang jauh melebihi normal, serta konsistensi feses yang encer. Diare dapat bersifat akut atau kronis. Penyebab diare pun bermacam-macam.3
Diare terjadi karena adanya rangsangan terhadap saraf otonom di dinding usus sehingga menimbulkan refleks mempercepat peristaltik usus. Diare akut disebabkan oleh infeksi dengan bakteri seperti: E.Coli, Shigella, Salmonella, V.cholerae. diare kronis mungkin berkaitan dengan berbagai gangguan gastrointestinal, ada pula diare yang berlatar belakang kelainan psikhomatik, alergi oleh makanan atau obat-obatan tertentu. Kelainan pada sistem endokrin dan metabolisme kekurangan vitamin dan sebagai akibat dari radiasi.3.4
Diare hebat sering disertai muntah sehingga tubuh kehilangan banyak air dan garam-garam terutama Na dan K sehingga terjadi kekeringan(dehidrasi) kurang K(hipokilemia) dan acidosis(darah jadi asam). Pada anak-anak dan bayi lebih bahaya karena cadangan cairan intra sel sedikit, sedangkan cairan ekstra sel lebih mudah dilepaskan dibanding orang dewasa. Gejala dehidrasi, perasaan haus, mulut dan bibir kering, kulit keriput, air seni berkurang, berat badan turun, gelisah, ngantuk, lemah otot dan sesak napas.2
Diare yang berkepanjangan sangat melemahkan penderitanya karena tubuh banyak kehilangan energi cairan dan elektrolit tubuh, sehingga memerlukan terapi pengganti dengan cairan dan elektrolit serta kalori, obat anti bakteri atau anti

amuba tergantung penyebab diare maupun obat-obat lain yang bekerja memperlambat peristaltik usus, menghilangkan nyeri dan menenangkan.
  1. Obat Antidiare
Antidiare adalah obat-obatan yang digunakan untuk menanggulangi atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman, virus, cacing atau keracunan makanan. Diare dapat ditimbulkan oleh.4
1.   Infeksi oleh bakteri patogen misalnya bakteri coli.
2.   Infeksi oleh kumanthypus (kadang-kadang) dan kolera.
3.   Infeksi oleh virus misalnya influenza perut dan travellers diarre (masuk angin akibat perjalanan).
4.   Akibat dari penyakit cacing (cacing gelang, cacing pita).
5.   Keracunan makanan atau minuman.
6.   Gangguan gizi.
7.   Pengaruh enzim tertentu.
8.   Pengaruh saraf (terkejut, takut).
Berdasarkan mekanisme kerjanya dalam menghentikan diare (terapi simptomatis), maka anti diare dibagi menjadi 4 yaitu:4
1.      Menekan peristaltik usus, misalnya loperamide.
2.      Menciutkan selaput usus atau adstringen, contohnya tannin.
3.      Pemberian adsorben untuk menyerap racun yang dihasilkan bakteri atau racun penyebab diare yang lain, misalnya carbo-adsorben, kaolin.
4.      Pemberian mucilago untuk melindungi selaput lendir yang luka.
Obat-obat lain yang diberikan untuk mengobati diare ini dapat berupa:4
1.      Kemoterapi, untuk terapi kasual yaitu memusnahkan bakteri penyebab penyakit digunakan obat golongan sulfonamida atau antibiotika.
2.      Spasmolitik, zat yang dapat melemaskan kejang-kejang otot perut (nyeri perut) pada diare misalnya atropin sulfat.
3.      Oralit, sebelum diberikan obat yang tepat maka pertolongan pertama pengobatan diare akut seperti pada gastro enteritis ialah mencegah atau mengatasi pengeluaran cairan atau elektrolit yang berlebihan (dehidrasi) terutama pada pasien bayi dan usia lanjut, karena dehidrasi dapat menyebabkan kematian.

  1. Loperamide HCl5
Gambar 1. Rumus bangun Loperamide HCl
                        Merupakan derivat defenoksilat dan haloperidol (suatu neuroleptikum). Khasiat obstipasinya 2-3 kali lebih kuat tanpa khasiat terhadap sistem saraf pusat, jadi tidak menyebabkan adiksi, habituasi, dan toleransi. Mulai kerjanya cepat dan masa kerjanya panjang.
            Efek samping: Tidak terjadi tapi pada anak-anakdibawah 2 tahun tidak boleh diberikan karena akan terjadi penekanan peristaltik usus kuat sehingga timbul konstipasi.
                        Dosis: Diare akut, permulaan 2 tablet berisi 2 mg, lalu 2 jam 1 tablet sampai maksimum 8 tablet sehari. Anak-anak 2-8 tahun : 2-3 kali sehari 0,1 mg/kg BB Anak-anak 8-12 tahun : pertama 2 mg, maksimal 8-12 mg sehari.



BAB III
ALAT, BAHAN DAN METODE

A.    Alat dan Bahan
    1. Tiga ekor mencit yang telah diberi penandaan
    2. Larutan NaCl
    3. Larutan oleum ricini
    4. Larutan loperamide HCl 0,06 mg/ml
    5. Larutan loperamide HCl 0,12 mg/ml
    6. Jarum suntik 1 ml
B.     Metode
1.      Disiapkan 3 ekor kelinci dengan penandaan sebagai berikut:
a. Kelinci 1          : kontrol
b.Kelinci 2          : uji 1
c. Kelinci 3          : uji 2
2.      Ditimbang bobot masing-masing kelinci.
3.      Disiapkan larutan obat yang dibutuhkan, dengan cara mengencerkan larutan stock obat yang tersedia.
4.      Dihitung dosis untuk setiap kelinci percobaan.
5.      Pada menit ke-0 (t=0):
a. Diberikan larutan NaCl secara peroral pada kelinci 1 (kontrol).
b.Diberikan larutan loperamide HCl 0,06 mg/ml secara peroral pada kelinci 2 (uji 1) sebanyak dosis yang telah dihitung.

c. Diberikan larutan loperamide HCl 0,12 mg/ml secara peroral pada kelinci 3 (uji 2) sebanyak dosis yang telah dihitung.
6.      Pada menit ke-60 (t=60), diberikan oleum ricini melalui peroral sebanyak dosis yang telah dikonversikan pada kelinci 1, 2 dan 3.
7.      Diamati respon setiap selang waktu 30 menit selama 4 jam.
8.      Diamati parameter sebagai berikut:
a. Waktu muncul diare
b.Frekuensi munculnya diare
c. Konsistensi feses:
1)      (-)        : tidak ada feses
2)      (+)       : feses normal
3)      (++)     : feses lembek
4)      (+++)   : feses cair
d. Lama terjadinya diare
e. Bobot feses











BAB IV
HASIL
  1. Penimbangan kelinci
Tabel 1. Data pengamatan berat kelinci
Perlakuan
Berat kelinci (gram)
Kelinci 1 (Kontrol)
308,00
Kelinci 2 (Uji)
285,00

  1. Pembuatan larutan obat
Loperamide HCl 0,06 mg/ml
Stock obat = 2 mg/tablet
Cara pembuatan = digerus 1 tablet dilarutkan dalam 1 ml Na-CMC dan 1 ml air kemudian diambil 0,6 ml larutan stock dan diencerkan hingga 10 ml dengan air.

  1. Perhitungan konversi dosis dan volume pemberian obat untuk kelinci
Dosis loperamide HCl 2 mg/kg BB manusia
Faktor konversi untuk kelinci(1,50 kg) = 0,07
Dosis untuk mencit = 2 x 0,07 = 0,14 mg/1500 g BB kelinci
Konsentrasi yang diinginkan = 0,06 mg/ml
BB kelinci uji = 285,00 g

  1. Pengamatan percobaan
Tabel 2. Data pengamatan waktu dan frekuensi diare
Waktu muncul diare (menit ke-)
Frekuensi konsistensi diare
Lama terjadinya diare (menit)
Kontrol
Uji
Kontrol
Uji
Kontrol
Uji
106
36
Feses normal 1 kali
Feses normal 5 kali, feses lembek 2 kali
Hanya pada menit ke-106
Dari menit ke-36 sampai menit ke-240









Tabel 3. Data pengamatan bobot dan konsistensi feses
Waktu (menit)
Perlakuan
Kontrol
Uji
Bobot feses (gram)
Konsistensi feses
Bobot feses (gram)
Konsistensi feses
30
-
-
-
+
60
-
-
0,01
+
90
-
-
0,1
+
120
0,1
+
0,2
+
150
-
-
0,2
+
180
- (menit ke 170 keluar urin)
-
3,2
++
210
-
-
0,7
+
240
-
-
0,4
++

                        Keteerangan :
                        ( - )      : tidak ada feses
                        ( + )     : feses normal
                        ( ++ )   : feses lembek
                        ( +++ ) : feses cair


BAB V
PEMBAHASAN

            Pada praktikum kali ini dilakukan uji pada obat antidiare. Diare adalah keadaan buang-buang air dengan banyak cairan.Percobaan diawali dengan mempersiapkan semua alat untuk percobaan dan bahan yaitu obat yang akan digunakan pada percobaan. Kelinci ditimbang dengan maksud untuk perhitumgan dosis yang tepat, karena salah satu faktor penting yang dapat memberikan dosis yang berbeda yiap individu adalah berat badan. Kelinci dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok uji. Kelompok kontrol diberikan oleum ricini secara peroral dan kelompok uji diberikan Loperamide HCl secara peroral. Pada pengujian efek antidiare ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana aktivitas obat anti diare dapat menghambat diare yang disebabkan oleh oleum ricini pada hewan percobaan.
            Pemberian oleum ricini pada mencit dapat menyebabkan diare karena oleum ricini  mengandung kandungan trigliserida asam risinolat yang dihidrolisis didalam usus halus oleh lioase pankreas menjadi gliserin dan asam risinolat sebagai cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristaltik usus. Loperamid HCl berkhasiat sebagi obat antidiare dengan bekerja memperlambat proses peristaltik usus sehingga mengurangi frekuensi defekasi dan memperbaiki konsistensi feses.
            Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil jumlah total feses selama 4 jam percobaan untuk kelinci kontrol yaitu 0,1 g dan untuk kelinci uji yaitu 4,81 g. Pada percobaan ini didapatkan hasil bahwa frekuensi diare kelinci uji lebih sering dibandingkan dengan kelinci kontrol. Menurut perlakuan uji dan kontrol seharusnya frekuensi diare kelinci kontrol lebih sering daripada kelinci uji karena pada kelinci uji diberikan oleum ricini dan loperamide sedangkan  kelinci kontrol hanya diberikan oleum ricini saja. Penyimpangan hasil ini disebabkan karena sumber hewan coba yang berbeda sehingga perlakuan

kelinci sebelum di uji coba menjadi berbeda. Kelinci uji sebelum percobaan tetap diberi makan sedangkan kelinci kontrol dipuasakan, seharusnya masing-masing kelinci diberikan makan sebelum percobaan.
            Pada percobaan ini digunakan obat antidiare berupa loperamide HCl. Obat ini merupakan analog meperidin dan memiliki efek seperti opioid pada usus, mengaktifkan reseptor opioid presinaptik di dalam sistem saraf enterik untuk menghambat pelepasan asetilkolin dan menurunkan peristaltik. Obat ini memperlambat motilitas saluran cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga diduga efek konstipasinya diakibatkan oleh ikatan loperamide dengan reseptor tersebut. Efek samping termasuk rasa kantuk, kejang perut dan pusing. Karena obat ini dapat menyebabkan megakolon yang toksik, maka tidak digunakan pada anak-anak atau pasien dengan kolitis berat.

KESIMPULAN

            Loperamid HCl berkhasiat sebagi obat antidiare dengan bekerja memperlambat proses peristaltik usus sehingga mengurangi frekuensi defekasi dan memperbaiki konsistensi feses.
            Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil jumlah total feses selama 4 jam percobaan untuk kelinci kontrol yaitu 0,1 g dan untuk kelinci uji yaitu 4,81 g.
            Pada percobaan ini didapatkan hasil bahwa frekuensi diare kelinci uji lebih sering dibandingkan dengan kelinci kontrol. Menurut perlakuan uji dan kontrol seharusnya frekuensi diare kelinci kontrol lebih sering daripada kelinci uji karena pada kelinci uji diberikan oleum ricini dan loperamide sedangkan  kelinci kontrol hanya diberikan oleum ricini saja. Penyimpangan hasil ini disebabkan karena sumber hewan coba yang berbeda sehingga perlakuan kelinci sebelum di uji coba menjadi berbeda. Kelinci uji sebelum percobaan tetap diberi makan sedangkan kelinci kontrol dipuasakan, seharusnya masing-masing kelinci diberikan makan sebelum percobaan.








DAFTAR PUSTAKA

  1. Ishak, S.Si.,Apt. Obat Saluran Cerna diambil dari http://rsjsoerojo.co.id/obat_saluran_pencernaan_berita82.html diakses pada 29 desember 2012 pukul 20.09
  2. Anonim. Obat Saluran Pencernaan;2012,10
  3. Anonim. Penuntun Praktikum Farmakologi. Bogor: Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor ;2012,13
  4. Dra. Murniati, Apt. Dkk. Farmakologi. Jakarta:K3S SMF Provinsi DKI Kakarts;2007,6.7
  5. LOPERAMIDA (IMODIUM,Jansen) diambil dari http://pharmacist-onesah.blogspot.com/2012/03/efek-antidiare.html diakses pada 28 januari 2013 pukul 21.50

1 komentar:

  1. terimakasih untuk informasinya, sebenarnya klo dibiarkan tanpa di obati, penyakit apapun bisa menjadi berbahaya,

    http://herbalkuacemaxs.com/pengobatan-herbal-diare/

    BalasHapus